Sehari Menjadi Penembak Jitu

Belajar menembak tidak pernah ada dalam daftar keinginan saya sebelumnya. Ya memang karena dalam pikiran saya hal itu sangat tidak mungkin untuk dilakukan orang sipil seperti saya. Tapi pemikiran itu langsung berubah saat seorang kawan mengajak saya menuju lapangan tembak yang berlokasi di Kalisari.

Tempat ini tidak asing, karena sejak saya duduk di bangku SMP saya sudah sering mengunjunginya. Saya datang ke sini setiap minggu untuk latiihan renang.

Saat datang ke lapangan tembak, suara peluru besautan. Beberapa orang tengah berlatih menembak didampingi oleh tentara-tentara dari kesatuan. Dengan segera, pelatih di sana memberikan saya penutup tellinga agar suara tembakannya tidak terlalu merusak telinga.

Taufan beraksi dengan HandGun 9mm.

Pelatih pagi itu adalah Om Karel. Seorang mantan angkatan dan juga aktif di Perbakin. Beliau tengah asyik mengajar dua orang wanita di ujung lapangan. Suasana lapangan tembak pagi itu tidak terlalu ramai. Hanya dua orang wanita dan tiga orang pria yang tengah berlatih. Dan masing-masing dari mereka ditemani oleh pelatih yang sudah profesional.

Langkah tegap om Karel mendekati saya. Ia menanyakan kenapa saya memilih olahraga ini, yang notabene lebih banyak peminat pria dibandingkan wanita. Sejujurnya saya menjawab, ini bukan ide saya awalnya. Saya yang memang senang mencoba sesuatu yang baru tentu tak akan melewatkan kegiatan ini begitu saja.

Sebelum mulai, saya diharuskan membaca beberapa etika dalam menembak yang ditempel besar-besar di dinding saat pertama kali masuk lapangan. Tata cara memegang senjata api pun digambarkan secara gamblang agar setiap amatir (seperti saya) lebih memperhatikan.

Latihan awal yang diajarkan adalah sikap dalam memegang senjata. Kami, para penembak amatir tidak boleh sembarangan saat sedang memegang senjata. Om Karel juga berpesan, saat berbicara atau bercanda dengan teman, senjata tetap harus diarahkan ke bawah.

Hmm..deg-degan juga sih awalnya. Padahal saat itu senjata yang saya pegang tidak berisi peluru sama sekali.

Dalam memegang senjata badan gak boleh tegang apalagi kaku. Agar tidak terjadi cedera saat berlatih. Ternyata saat menembak, banyak hal positif yang bisa saya ambil. Diantaranya, saya bisa melatih konsentrasi, fokus, dan juga mengontrol diri agar tenang.

Kenapa? Karena jika tidak konsentrasi, peluru bisa saja ‘lari’ ke sasaran lain. Selain itu kalau si penembak tidak tenang maka bisa mencelakai dirinya sendiri atau bahkan orang lain.

Saat memegang picu senjata juga tidak boleh dihentak. Apabila picu dihentak maka daya tolak yang dikeluarkan akan menghantam pelipis wajah kita sendiri. Duh! Jangan sampe deh! >,<!

Tapi sepertinya yang sangat menikmati kegiatan menembak Sabtu pagi kemarin adalah teman saya, Taufan. Terlihat sekali dia ‘ketagihan’ menembakkan peluru hingga beberapa butir. Kalau saya, sepertinya harus menyiapkan jantung ekstra terlebih dulu sebelum akhirnya jadi kegiatan rutin.

Di luar itu semua, kegiatan ini memang seru dan menantang. Cocok banget buat siapa aja yang memang sedang mencari tantangan. Dan saya gak mau kalah nih, besok mau coba lagi ah! :D

 

2 thoughts on “Sehari Menjadi Penembak Jitu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>